SURABAYA — Menjadi salah satu daerah dengan persaingan cukup ketat dalam seleksi sekolah kedinasan, termasuk Akademi Kepolisian (Akpol). Dengan jumlah kuota yang terbatas, calon taruna dan taruni perlu mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari. Kondisi tersebut menjadi bagian dari perjalanan Ganesaraswati dalam membantu peserta menghadapi proses seleksi.
Sejak berkembang pada 2022, jumlah peserta Ganesaraswati terus meningkat. Founder Ganesaraswati, Angga Priandi Pasma, mengatakan awalnya hanya ada tiga peserta pada 2022. Jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 10 peserta pada 2023, 40–50 peserta pada 2024, sekitar 90 peserta pada 2025, hingga sekitar 120 peserta pada 2026. Saat wawancara berlangsung, terdapat sekitar 80 peserta yang masih mengikuti pembelajaran.
Peserta didik Ganesaraswati juga berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Selain Surabaya dan sejumlah kota di Jawa Timur, terdapat peserta dari Bali, Sulawesi, Kalimantan, Palembang, Jakarta, Tangerang hingga Bandung. Sistem pembelajaran online membuat peserta dari luar daerah tetap bisa mengikuti proses belajar.
Dalam mempersiapkan peserta, Ganesaraswati terus memperbarui materi dan soal latihan. Para pengajar diwajibkan membuat soal yang disesuaikan dengan materi tes. Setelah peserta mengikuti tes, pengajar akan menanyakan materi maupun bentuk soal yang muncul untuk kemudian dikembangkan menjadi latihan baru. Misalnya, ketika peserta menemukan materi trigonometri, pengajar akan membuat latihan dengan materi yang serupa.

Ganesaraswati juga membuat dan memodifikasi soal sendiri. Nama peserta atau pengajar terkadang digunakan dalam soal agar lebih mudah dipahami dan terasa lebih dekat dengan peserta.
Upaya tersebut juga diikuti dengan capaian peserta dalam seleksi Akpol. Angga menyebut bahwa sejak 2022 hingga 2026, peringkat satu Jawa Timur selalu berasal dari Ganesaraswati. Nama yang disebut yaitu Gatra pada 2022, Amandito pada 2023, Juwan Alfawazi pada 2024, Vito pada 2025, dan Keito pada 2026.
Peserta dari luar Jawa Timur juga mencatatkan prestasi di daerah masing-masing. Maheswara disebut menjadi peringkat satu NTB, sementara Ragil Putro menjadi peringkat satu Kalimantan Timur. Peserta dari Papua dan Bali juga disebut berhasil lolos seleksi. Selain itu ada peserta dari Aceh M. Farel Reihansyah yang lolos, lalu ada Louis Rafhael asal dari Sumatra Utara yang juga lolos seleksi.
Meski begitu, seleksi tetap memiliki persaingan yang ketat karena jumlah kuota terbatas. Kuota Akpol Jawa Timur pada 2026 disebut sekitar 22 orang, sedangkan kuota Taruni Jawa Timur hanya satu orang. Jumlah kuota juga berbeda di setiap daerah.
Keterbatasan kuota tersebut juga terlihat dalam perjalanan peserta Taruni Ganesaraswati. Pada 2024, dua peserta dari Jawa Timur, Galuh Pitaloka dan Nawang wulan, disebut berhasil lolos. Pada 2025, satu peserta Ganesaraswati berhasil lolos dari kuota Jawa Timur yang berjumlah dua orang, sementara pada 2026 belum ada peserta Taruni Ganesaraswati yang lolos.
Untuk memantau perkembangan peserta, Ganesaraswati memiliki Laporan Pembelajaran Harian atau LPH. Setiap pembelajaran disertai tes berdasarkan materi yang telah diberikan. Peserta tidak hanya dinilai dari jawaban benar atau salah, tetapi juga harus mampu menjelaskan alasan di balik jawaban yang dipilih.
Hasil pembelajaran kemudian disampaikan kepada orang tua. Ganesaraswati juga membuka ruang konsultasi melalui telepon, Zoom maupun secara langsung. Nilai diberikan sesuai kemampuan peserta dan tidak dibuat lebih tinggi dari hasil sebenarnya.
Selain prestasi dan metode belajar, jadwal yang fleksibel serta sistem privat menjadi beberapa alasan orang tua memilih Ganesaraswati. Dari sisi peserta, suasana belajar juga disebut terasa lebih “homie”, seperti berada di rumah sendiri.
Dari tiga peserta pada 2022 hingga berkembang menjadi sekitar 120 peserta pada 2026, Ganesaraswati terus mengembangkan sistem pembelajaran dan evaluasinya. Di tengah persaingan seleksi Akpol dengan kuota yang terbatas, berbagai upaya tersebut menjadi bagian dari persiapan peserta untuk menghadapi setiap tahapan seleksi.

