Latihan Soal di Ganesaraswati Lebih Sulit daripada Tes?

Tidak punya akses ke soal ujian asli. Lalu bagaimana GaneSaraswati membuat latihan yang tetap relevan dengan tes sebenarnya?

Bagi peserta seleksi Akpol dan sekolah kedinasan, latihan soal mungkin terdengar sederhana: semakin banyak soal dikerjakan, semakin siap menghadapi ujian.

Namun, persoalannya bukan hanya tentang berapa banyak soal yang dikerjakan.

apakah soal yang dikerjakan benar-benar melatih kemampuan yang dibutuhkan saat tes?

Di sinilah proses pembelajaran di GaneSaraswati tidak berhenti pada sekadar memberikan kumpulan soal.

Bukan Mencari Bocoran, tetapi Membaca Pengalaman Peserta

GaneSaraswati tidak memiliki akses terhadap soal ujian asli. Karena itu, pengembangan materi dilakukan melalui proses evaluasi yang terus diperbarui. Salah satu sumber evaluasinya justru datang dari peserta yang telah mengikuti tes.

Setelah peserta menyelesaikan ujian, mereka diajak berdiskusi mengenai pengalaman tes yang baru saja dilewati. Pengajar menggali kembali materi apa yang muncul dan seperti apa karakter soalnya. Misalnya, peserta menceritakan bahwa pada bagian matematika muncul materi trigonometri dengan tipe soal tertentu.

“Setelah pulang tes, mereka kami tanya tadi yang keluar apa,.” – Angga Priandi

Informasi tersebut kemudian menjadi bahan bagi pengajar untuk mengembangkan latihan yang memiliki karakteristik serupa. Hal yang sama dilakukan pada materi lain. Jika peserta menemukan soal Bahasa Indonesia mengenai penulisan surat, misalnya, pengajar dapat mengembangkan kembali latihan dengan konsep yang berkaitan dengan materi tersebut.

Setiap Pengajar Dituntut Aktif Membuat Soal

Proses tersebut juga tidak hanya dilakukan oleh satu orang. Dalam wawancara bersama Pak Angga Priandi selaku founder sekaligus pengajar GaneSaraswati menjelaskan bahwa para pengajar diwajibkan aktif membuat dan mengembangkan soal. Materi dan soal terus diperbarui agar pembelajaran tidak berhenti pada pola latihan yang sama.

Artinya, soal bukan sekadar bahan yang diberikan kepada peserta. Soal menjadi bagian dari proses belajar itu sendiri. Ketika ada pengalaman baru dari peserta, pengalaman tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk pembelajaran berikutnya.

Dengan cara ini, latihan soal tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang statis.

Mengapa Soal Tidak Dibuat Terlalu Mudah?

Menariknya, ada peserta GaneSaraswati yang mengikuti bimbingan di lebih dari satu tempat.

Dari pengalaman tersebut, mereka bisa membandingkan tingkat kesulitan soal yang diberikan.

Ada peserta yang merasa menjadi “paling pintar” ketika mengerjakan soal di tempat lain karena hampir semua soal dapat dikerjakan. Namun ketika mengerjakan soal di GaneSaraswati, mereka justru merasa kesulitan dan menemukan banyak hal yang belum dipahami.

Sekilas, kondisi tersebut mungkin terdengar negatif. Padahal, justru di situlah fungsi latihan.

Latihan bukan tempat untuk membuktikan bahwa kita sudah pintar. Latihan adalah tempat untuk menemukan bagian mana yang ternyata belum kita kuasai.

Sebab, merasa mampu mengerjakan soal-soal yang mudah tidak selalu berarti seseorang siap menghadapi soal dengan tingkat kesulitan yang berbeda.

Soal yang Lebih Dekat dengan Peserta

Ada hal lain yang membuat pengembangan soal di GaneSaraswati terasa berbeda. Dalam membuat soal, pengajar terkadang menggunakan nama peserta maupun nama pengajar sebagai bagian dari cerita dalam soal. Tujuannya sederhana: membuat soal lebih mudah dibayangkan dan lebih dekat dengan kehidupan peserta. Misalnya, daripada membaca soal dengan tokoh yang terasa jauh dan abstrak, peserta bisa saja menemukan nama yang sudah mereka kenal di dalam soal.

Hasilnya, soal terasa lebih familiar. Bahkan, menurut cerita dalam wawancara bersama, pernah ada situasi ketika nama dua peserta yang sebelumnya berpacaran digunakan dalam sebuah soal setelah keduanya putus. Sedikit canggung? Mungkin. Tapi justru karena terasa dekat dengan kehidupan mereka, soal menjadi sesuatu yang lebih mudah diingat.

Karena Tes Sebenarnya Tidak Bisa Diprediksi

Pada akhirnya, tidak ada yang bisa menjamin soal yang akan muncul dalam sebuah seleksi. Karena itu, tujuan latihan bukan untuk membuat peserta menghafal kemungkinan soal yang akan keluar. Yang lebih penting adalah membuat peserta terbiasa menghadapi berbagai bentuk persoalan, memahami konsep, dan mengetahui letak kelemahannya.

Pendekatan GaneSaraswati berangkat dari proses tersebut: “materi terus diperbarui, pengajar aktif mengembangkan soal, dan pengalaman peserta setelah mengikuti tes menjadi salah satu bahan evaluasi untuk pembelajaran berikutnya.” – Angga Priandi

Jadi “Seberapa siap kamu ketika soal yang datang ternyata tidak sesuai dengan yang kamu bayangkan?”

Karena mempersiapkan diri untuk seleksi bukan berarti menebak soal yang akan keluar.

Melainkan mempersiapkan diri untuk menghadapi apa pun yang keluar.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *