Keberhasilan Aflah menuju Akademi Kepolisian (Akpol) tidak lepas dari usaha dan dukungan orang tua. Dalam wawancara, Bu Ratih dan Pak Sumaryono, orang tua Aflah, menceritakan proses persiapan, pilihan yang ia tentukan sendiri, hingga momen yang paling membekas bagi keluarga.
Keinginan untuk mempertimbangkan sekolah kedinasan mulai diarahkan sejak Aflah duduk di bangku SMP karena saat itu mau masuk ke SMA Taruna Nusantara. Namun, orang tuanya tidak pernah memaksakan pilihan tersebut. Keinginan mengejar Akpol justru datang dari Aflah sendiri saat ia duduk di kelas XI SMAN 5 Surabaya.
Aflah sebenarnya memiliki kemampuan akademik yang baik, khususnya dalam matematika. Guru-gurunya bahkan sempat menyarankan agar ia melanjutkan pendidikan ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Meski begitu, Aflah tetap memilih memperjuangkan cita-citanya masuk Akpol. Orang tuanya pun menegaskan, “Ini tuh bukan kemauan kami sebagai orang tuanya, melainkan ini tuh kemauannya dia sendiri.”
Persiapan dan Pilihan Ganesaraswati
Salah satu tantangan terbesar Aflah adalah waktu persiapan yang relatif singkat, yaitu sekitar satu tahun. Ayahnya menilai bahwa Aflah idealnya memulai persiapan dua hingga tiga tahun sebelumnya, mengingat seleksi sekolah kedinasan menuntut kesiapan akademik sekaligus fisik.
Untuk mempersiapkan seleksi, Aflah mencari tempat belajar yang dapat membantunya mencapai target tersebut. Ia kemudian memilih Ganesaraswati setelah mendengar cerita tentang alumni yang berhasil lolos. Orang tuanya ikut mencari informasi dan mendukung pilihan itu dengan mempertimbangkan materi pembelajaran, komunikasi dengan pengajar, lokasi, serta fleksibilitas waktu belajar.
Selama menjalani persiapan, orang tua Aflah melihat perubahan pada dirinya. Aflah menjadi lebih fokus dan termotivasi. Ia mulai mengatur jadwal belajar, mengurangi kegiatan pribadi, serta berlatih mengerjakan berbagai jenis soal untuk menghadapi seleksi.
Rutinitas Aflah cukup padat. Saat masih bersekolah, ia mengikuti kegiatan belajar di Ganesaraswati pukul 19.00–21.00, lalu mengerjakan tugas sekolah sekitar pukul 21.00–22.00. Di tengah kesibukan sekolah dan latihan fisik, ia terus berusaha membagi waktu agar persiapannya tetap berjalan. Setelah lulus, Aflah meningkatkan intensitas belajarnya dengan mengikuti kegiatan persiapan setiap hari.
Orang tuanya terus memberikan dukungan dan memenuhi kebutuhan Aflah selama proses tersebut. Namun, mereka juga memahami bahwa dukungan keluarga saja tidak cukup. Pada akhirnya, Aflah sendiri yang harus menjalani setiap proses dan memperjuangkan cita-citanya.
Kebanggaan atas Usaha Sendiri
Hal yang paling membanggakan bagi orang tua Aflah bukan sekadar keberhasilannya masuk Akpol, tetapi juga tekadnya untuk berjuang melalui usaha sendiri. Ibunya bercerita bahwa Aflah tidak ingin memanfaatkan nama maupun akses yang dimiliki ayahnya untuk mencapai cita-cita.
Ibunya menyampaikan, “Aku mau lulus dengan kerja kerasku sendiri, aku gak mau menggunakan bantuan orang tua,” kata ibunya menirukan kata-kata Aflah. Baginya, sikap tersebut menunjukkan bahwa Aflah ingin mencapai cita-citanya melalui proses dan kemampuannya sendiri.
Momen wisuda juga menjadi kenangan yang paling membekas bagi ibunya. Bu Ratih menceritakan ketika Aflah bersujud kepadanya sebagai bentuk penghormatan. “Dia kemarin itu sujud gitu loh sama aku,” tuturnya sambil meneteskan air mata.
Momen itu mengingatkan Bu Ratih pada perjuangan yang telah dilalui putranya. Kebanggaan yang ia rasakan bukan hanya karena Aflah berhasil mencapai tujuannya, tetapi juga karena ia menyaksikan sendiri proses dan kerja keras anaknya.
Kini, setelah Aflah diterima di Akpol, kedua orang tuanya berharap ia selalu sehat dan mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya. Di sisi lain, mereka juga harus menghadapi rasa rindu karena tidak bisa lagi bertemu dan berkomunikasi dengan Aflah sesering sebelumnya.
Pesan untuk Orang Tua dan Anak yang sedang Berjuang
Berdasarkan pengalamannya mendampingi Aflah, Pak Sumaryono berpesan agar orang tua memberikan arahan dan dukungan tanpa memaksakan cita-cita kepada anak. Menurutnya, anak perlu memiliki keinginan sendiri agar dapat menjalani proses dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Perjalanan Aflah menuju Akpol menunjukkan bagaimana tekad pribadi, kedisiplinan, dan dukungan keluarga berperan dalam meraih cita-cita. Bagi kedua orang tuanya, keberhasilan ini bukan hanya tentang pencapaian Aflah, tetapi juga tentang bagaimana ia memilih jalannya sendiri dan memperjuangkannya dengan kerja keras.

