siswa mengerjakan soal

Begini Cara GaneSaraswati Mempersiapkan Siswa Untuk Hadapi Tes Sebenarnya


Di GaneSaraswati, mendapat nilai tinggi belum tentu berarti siswa sudah memahami soal. Dalam persiapan bimbel tes Akpol, Akmil, dan sekolah kedinasan, siswa tidak cukup hanya dilatih untuk mendapatkan jawaban yang benar, tetapi juga perlu memahami alasan di balik setiap jawaban. Proses belajar di Ganesaraswati dicatat melalui Laporan Pembelajaran Harian (LPH). LPH tidak hanya melihat berapa banyak soal yang dijawab benar, tetapi juga bagaimana siswa memahami materi dan proses berpikir di balik soal yang dikerjakan. Dengan pendekatan ini, bimbel persiapan Akpol, Akmil, dan sekolah kedinasan di GaneSaraswati membantu siswa membangun pemahaman sebagai bekal untuk menghadapi tes yang sebenarnya.

Sekilas, angka 70, 80, atau 90 mungkin terlihat cukup untuk menggambarkan kemampuan seorang siswa. Tapi dalam proses belajar, angka ternyata tidak selalu bercerita banyak.

Seorang siswa bisa saja memilih jawaban yang benar. Namun ketika ditanya alasannya, belum tentu ia bisa menjelaskan kenapa jawabannya benar dan kenapa pilihan lainnya salah. Hal inilah yang coba dilihat GaneSaraswati melalui Laporan Pembelajaran Harian atau LPH.

Setiap Pertemuan Ada Catatannya

LPH dibuat setiap kali proses pembelajaran berlangsung. Di dalamnya tercatat materi yang dipelajari, hasil pengerjaan soal, hingga catatan mengenai bagian yang masih perlu ditingkatkan. Jadi, perkembangan siswa tidak hanya dilihat dari hasil akhir.

Misalnya, seorang siswa mendapatkan nilai 70 pada materi tertentu. Angka tersebut tidak berhenti sebagai angka, tetapi dilengkapi dengan keterangan mengenai materi yang masih perlu dipahami.

Menurut Pak Angga Priandi, founder sekaligus pengajar GaneSaraswati, LPH menjadi salah satu cara untuk melihat perkembangan siswa secara lebih nyata.

“Satu itu banyak-banyakan benar, yang kedua adalah beneran paham enggak dengan soal.” Ujar Pak Angga dalam Wawancara

Karena itu, proses belajar di GaneSaraswati tidak berhenti setelah siswa selesai mengerjakan soal.

Ketika Jawaban Benar Masih Dipertanyakan

Ada situasi yang cukup sering terjadi ketika mengerjakan soal. Misalnya, siswa memilih jawaban C. Jawabannya benar. Apakah Selesai? Belum. Pengajar kemudian akan bertanya, “Kenapa C?” Dari sini, siswa diminta menjelaskan alasan memilih jawabannya. Bahkan bukan hanya itu, mereka juga perlu mengetahui mengapa pilihan A, B, D, atau E tidak tepat.

Tujuannya adalah memastikan siswa tidak sekadar menebak jawaban yang kebetulan benar.

“Dia harus jelaskan kenapa dia milih C, kenapa A salah, kenapa B salah, kenapa D salah, kenapa E salah,” jelas Pak Angga dalam wawancara.

Dengan cara seperti ini, satu soal tidak hanya menjadi latihan untuk mendapatkan nilai. Soal menjadi alat untuk melihat seberapa jauh siswa memahami konsep yang sedang dipelajari.

Nilai 100 Bukan Satu-Satunya Tujuan

Menariknya, dalam sistem LPH GaneSaraswati, nilai 100 bukan sesuatu yang harus selalu dikejar. Pak Angga bahkan menyebut bahwa sejauh ini belum ada siswa yang mendapatkan nilai 100 secara “solid”. Nilai tertinggi yang pernah ia temui berada di angka 93.

Bagi GaneSaraswati, hal tersebut bukan berarti siswa gagal. Justru, angka tersebut bisa menjadi gambaran bahwa masih ada ruang untuk belajar dan memperbaiki pemahaman. Sebab, yang dicari bukan sekadar siswa yang bisa mengisi jawaban dengan benar, tetapi siswa yang tahu kenapa jawabannya benar.

Nilainya Apa Adanya

Hal lain yang menjadi bagian penting dari LPH adalah kejujuran dalam memberikan nilai. Tidak ada nilai yang sengaja dinaikkan supaya terlihat bagus di mata orang tua. Kalau hasilnya memang 3, maka dicatat 3. Kalau masih kurang, maka akan ditulis sebagai bagian yang perlu ditingkatkan.

“Sejelek apa pun nilainya enggak ada dibagus-bagusin. Apa adanya,” kata Pak Angga.

Bagi siswa, mungkin mendapatkan nilai yang belum sesuai harapan terasa kurang menyenangkan. Tapi dari situlah guru bisa mengetahui bagian mana yang harus diperbaiki.

Dan bagi orang tua, laporan tersebut memberikan gambaran yang lebih realistis mengenai proses belajar anak.

Orang Tua Tidak Hanya Mendapat Angka

Hasil LPH kemudian disimpan dan disampaikan kepada orang tua. Jadi, orang tua tidak hanya mengetahui bahwa anaknya mengikuti les, tetapi juga bisa melihat bagaimana perkembangan pembelajarannya. Jika ada yang ingin dikonsultasikan, komunikasi juga bisa dilakukan melalui telepon, Zoom, atau datang langsung ke GaneSaraswati.

Bahkan bagi siswa yang mengikuti pembelajaran dari luar kota atau luar pulau, komunikasi tetap bisa dilakukan secara jarak jauh. Hal ini membuat proses belajar tidak hanya menjadi urusan antara siswa dan pengajar di dalam sesi pembelajaran. Orang tua juga tetap bisa mengetahui bagaimana proses tersebut berjalan.

Karena Belajar Bukan Tentang Siapa yang Paling Tinggi Nilainya

Pada akhirnya, LPH bukan sekadar tabel berisi nilai.

Di balik angka-angka tersebut ada catatan tentang materi yang sudah dipelajari, bagian yang masih perlu diperbaiki, dan yang paling penting adalah seberapa jauh siswa benar-benar memahami apa yang mereka kerjakan. Sebab dalam menghadapi seleksi yang kompetitif, kemampuan menjawab soal saja belum cukup.

Siswa perlu memahami cara berpikir di balik soal tersebut dan mungkin, di situlah fungsi LPH sebenarnya. Bukan untuk mencari siapa yang paling tinggi nilainya, tetapi untuk mengetahui bagian mana yang sudah dikuasai dan bagian mana yang masih harus diperjuangkan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *